"Jangan suka marah nanti lekas tua", demikian ungkapan yang sering kita dengar. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa tidak hanya kebiasaan marah-marah yang bisa membuat kita cepat tua. Setidaknya ada empat kebiasaan lain yang mempercepat penuaan dini.
Kebiasaan buruk seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol lebih dari tiga gelas per hari, berolahraga kurang dari dua jam per minggu, serta makan sayur dan buah kurang dari tiga porsi sehari, disinyalir dapat membuat seseorang lebih tua 12 tahun dari usianya.
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui studi selama 20 tahun terhadap 4.886 orang dewasa Inggris berusia 18 tahun atau lebih, dan rata-rata berusia 44 tahun. Mereka dipilih secara acak dari peserta survei kesehatan secara nasional di Inggris. Sebanyak 314 orang dari para responden tersebut sama sekali tidak mempunyai keempat kebiasaan itu dan hanya 32 di antaranya yang meninggal dunia.
Secara keseluruhan, kematian disebabkan penyakit jantung dan kanker. Mereka yang menjalani empat kebiasaan buruk itu juga lebih dari orang-orang sebaya dengan cara hidup sehat. "Tidak perlu upaya ekstrem untuk masuk kategori hidup sehat, yang penting konsisten dan menghindari faktor risiko," ujar ketua tim peneliti Elisabeth Kvaavik dari Universitas Oslo.
Sebagai contoh dalam penelitian tsb disebutkan, satu wortel, satu buah apel dan segelas air jeruk akan mencukupi kebutuhan buah dan sayuran. Kata Kvaavik, menu ini cukup secerhana dan jauh lebih sedikit dari pedoman yang ketat. Pemerintah merekomendasikan untuk minum empat gelas sari buah dan sayuran setiap hari untuk orang dewasa, tergantung dari usia, dan berolahraga sekitar 1,5 jam tiap minggu.
Juni Stevens, seorang peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas North Carolina, mengatakan, hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menguji efek gabungan dari kebiasaan yang terkait dengan kesehatan untuk umur panjang.
"Temuan tidak berarti bahwa semua orang yang mempertahankan gaya hidup sehat hidup lebih lama daripada mereka yang tidak, tetapi akan meningkatkan peluang berusia panjang," kata Stevens.
So,...life is a choice. Mau cepet tuwirr,...ato mau pilih awet kinclong...semua terserah diri kita masing-2. Urusan ko'it,...Tuhan yg atur. Betul3x?
SUGENG RAWUH
Kawula ngaturaken "Sugeng rawuh miwah Matur Nuwun" dhumateng panjenengan ingkang sampun kersa mampir wonten papan Blogg dalem punika.
Mugi-mugi kawula lan panjenengan sedaya saget mundhut manfaatipun.
Bilih wonten klenta-klentunipun anggen kawula matur utawi wonten lepat miwah luputipun ukara, dalem nyuwun agunging pangaksami.
Mbah Suminten marut klopo,...Nyuwun pangapunten sedaya lepat kawula.
Nuhun,...nuhun,...nuhun,...
Mugi-mugi kawula lan panjenengan sedaya saget mundhut manfaatipun.
Bilih wonten klenta-klentunipun anggen kawula matur utawi wonten lepat miwah luputipun ukara, dalem nyuwun agunging pangaksami.
Mbah Suminten marut klopo,...Nyuwun pangapunten sedaya lepat kawula.
Nuhun,...nuhun,...nuhun,...
Tampilkan postingan dengan label Artikel kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel kesehatan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Juli 2011
Kenali Lemak Sebelum Berobat
LEMAK itu teman sekaligus musuh (musuh dalam selimut kali,...heheheh). Lemak berguna bagi tubuh bila dalam takaran pas, tapi bila berlebihan ia akan mengundang bahaya sangat serius: aterosklerosis. Penyakit aterosklerosis—biasa disebut penyempitan pembuluh darah arteri—adalah pemicu beberapa penyakit "kelas berat" seperti diabetes melitus (kencing manis), jantung koroner, atau bahkan stroke. Di seluruh dunia, terosklerosis merupakan penyebab terbesar kematian (kata para peneliti loh).
Tak ada jalan lain. Bila ingin sehat, timbunan lemak dalam tubuh memang mesti dikikis. Cuma, pengurangan lemak tidak bisa dilakukan serampangan. Bagaimanapun, lemak tetap diperlukan tubuh, sehingga pengurangannya perlu dikontrol. Selain itu, tak semua lemak bersifat merusak. Itu sebabnya penderita obesitas (kegemukan) atau aterosklerosis, misalnya, perlu menjalani terapi khusus untuk mengurangi genangan lemak dalam darahnya. Hal itu antara lain dibahas dalam sebuah seminar tentang penanganan kelebihan lemak pada pasien dengan berbagai penyakit, yang digelar pertengahan Agustus lalu di Jakarta. Diselenggarakan oleh Perhimpunan Aterosklerosis dan Penyakit Vaskuler Indonesia, seminar itu bertema "All You Need to Know about Lipid".
Dengan pembahasan yang sangat teknis, seminar itu mungkin lebih cocok diikuti para ahli. Namun, awam pun perlu mengetahui persoalan tentang lemak. Substansi yang membuat makanan berasa lezat itu memang perlu dikenali. Ketika berbagai obat penghancur lemak dijual bebas dan kini gencar diiklankan di berbagai media massa, orang perlu teliti sebelum memutuskan untuk mengobati sendiri. Benarkah obat atau jamu bisa dengan jitu menggerus—bahkan seperti memilih—lemak di sekitar perut atau paha hingga membuat tubuh menjadi langsing? Berbahayakah mengurangi kolesterol dengan jamu-jamuan tanpa pengawasan dokter? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu membutuhkan pengenalan atas lemak.
Secara garis besar, lemak dalam tubuh bisa dibedakan menjadi lemak yang tertimbun di bawah kulit (yang membuat tubuh gemuk) dan lemak yang mengalir dalam darah. Lemak berukuran sangat kecil yang mengalir dalam darah bisa direduksi dengan obat. Sebaliknya, "Lemak di bawah kulit tidak mungkin bisa diturunkan dengan obat. Kalau ada yang mengatakan lemak macam ini bisa diturunkan, saya jamin itu pasti bohong. Jadi, kalau ada yang bilang minum obat tertentu bisa menguruskan badan, atau membuat lemaknya cair, itu bohong besar," kata Hamed Omar, dokter ahli jantung dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Lemak mempunyai beberapa fraksi—ada yang berbahaya, ada yang tidak. Ada empat fraksi: low density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), trigliserida, dan kolesterol total yang merupakan gabungan ketiga fraksi lemak. Tak semua lemak itu perlu dimusuhi karena hanya LDL dan trigliserida yang boleh dibilang merupakan "kolesterol jahat". Bila kadar LDL meninggi, bakal terjadi penyempitan pembuluh darah. Sementara itu, HDL, "si kolesterol baik", mampu mencegah terjadinya timbunan lemak di selaput bagian dalam pembuluh darah. Maka, dokter selalu menyarankan agar HDL ditingkatkan dengan cara yang ternyata mudah: olahraga. Kegiatan fisik ini mampu meningkatkan kolesterol baik tapi tidak bisa menurunkan kolesterol jahat.
Untuk menurunkan LDL yang telanjur menumpuk, tak ada cara lain kecuali dengan obat. Karena itu, sebaiknya orang mencegah penumpukan LDL dengan mengurangi konsumsi asam lemak jenuh yang banyak terdapat antara lain dalam lemak hewan, minyak kelapa sawit, minyak goreng, mentega, keju, es krim, dan berbagai makanan cepat saji.
Bila LDL telanjur segunung dan mesti digerus, pengobatan seperti apa yang pas? Para dokter biasa mengobati pasien yang kelebihan kolesterol dengan obat-obatan golongan statin seperti atovarstatin, pravastatin, simvastatin, lovastatin, dan cerivastatin. "Obat-obatan tersebut terbukti aman," kata Prof. Dr. T. Santoso, guru besar bidang internis dan kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meski seharusnya pengurangan kolesterol harus di bawah pengawasan dokter, ternyata banyak orang memilih pengobatan sendiri. Di pasar memang banyak beredar jamu peluntur lemak yang gencar diiklankan. Sebut, misalnya, Prolipid. Jamu yang diklaim bisa menurunkan kolesterol itu harga per kapsulnya cuma Rp 400 (bandingkan dengan obat generik simvastatin, yang harga per tabletnya Rp 3.600, atau Valemia—obat sejenis keluaran PT Sanbe—yang berharga Rp 6.800 per tablet). Dengan omzet Rp 6 miliar per tahun, Prolipid diperkirakan menguasai 50 persen pangsa pasar jamu sejenis di Indonesia.
Jamu produksi PT Indofarma itu terdiri dari tiga bahan utama, yaitu Guazumae folium (jati belanda) sebanyak 20 persen, Murrayae folium (kemuning) 10 persen, dan Sonchi folium (tempuyung) 10 persen. Dalam kemasannya tertulis: "Konsumsi Prolipid 2 x 2 kapsul sehari mampu menurunkan lemak dan kolesterol." Digagas sejak 1996, Prolipid meluncur di pasar pada 1997, setelah produknya diujicobakan pada karyawan Indofarma sendiri. Menurut Direktur Pemasaran Indofarma, Mohammad Jasin, Prolipid telah melaju ke pasar internasional, antara lain ke Polandia (meraup Rp 2,5 miliar) dan Rusia (menghasilkan Rp 500 juta). "Kami baru saja berpameran di Las Vegas, Amerika Serikat. Di sana responsnya juga bagus. Mereka bahkan sudah meminta agar Prolipid dicoba dipasarkan di sana," kata Jasin.
Apakah ini berarti jamu tradisional seefektif obat modern dalam menurunkan kolesterol? Tak banyak bukti ilmiah yang mendukungnya. Sejauh ini pihak Prolipid baru melakukan pengujian ilmiah di Universitas Airlangga, Surabaya, yang tampaknya belum cukup meyakinkan kalangan medis. Selain itu, penelitian hanya berupa "uji klinis" di kalangan karyawan Indofarma sendiri.
Minimnya penjelasan ilmiah seperti inilah yang membuat banyak dokter masih enggan menyarankan masyarakat untuk menurunkan kolesterol dengan obat-obatan tradisional. "Hampir semua obat tradisional belum pernah menjalani uji klinis yang baik," ujar Santosa. Suara dokter umumnya cenderung menyarankan konsumsi obat-obat yang sudah jelas teruji secara ilmiah ketimbang obat yang menurut iklannya bermanfaat tapi tak disertai bukti uji klinis. Maklum, para dokter kebanyakan berpatokan pada evidence-based medicine—obat-obatan yang sudah melewati eksperimen, penelitian laboratorium, binatang, dan klinis—yang memang menjadi patokan para klinisi di seluruh dunia.
Menurut Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan, para dokter dan farmakolog Indonesia cenderung terbiasa menerima pola Barat. "Jadi, setiap temuan obat tradisional dikatakan bukan obat.
Kini, pilihan memang berpulang pada pasien. Memilih pengobatan tradisional atau modern, yang penting pilihan itu—dengan segala risikonya—diambil setelah mendapatkan informasi yang lengkap dan jujur.
Semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Salam,
Ca' Moel
Tak ada jalan lain. Bila ingin sehat, timbunan lemak dalam tubuh memang mesti dikikis. Cuma, pengurangan lemak tidak bisa dilakukan serampangan. Bagaimanapun, lemak tetap diperlukan tubuh, sehingga pengurangannya perlu dikontrol. Selain itu, tak semua lemak bersifat merusak. Itu sebabnya penderita obesitas (kegemukan) atau aterosklerosis, misalnya, perlu menjalani terapi khusus untuk mengurangi genangan lemak dalam darahnya. Hal itu antara lain dibahas dalam sebuah seminar tentang penanganan kelebihan lemak pada pasien dengan berbagai penyakit, yang digelar pertengahan Agustus lalu di Jakarta. Diselenggarakan oleh Perhimpunan Aterosklerosis dan Penyakit Vaskuler Indonesia, seminar itu bertema "All You Need to Know about Lipid".
Dengan pembahasan yang sangat teknis, seminar itu mungkin lebih cocok diikuti para ahli. Namun, awam pun perlu mengetahui persoalan tentang lemak. Substansi yang membuat makanan berasa lezat itu memang perlu dikenali. Ketika berbagai obat penghancur lemak dijual bebas dan kini gencar diiklankan di berbagai media massa, orang perlu teliti sebelum memutuskan untuk mengobati sendiri. Benarkah obat atau jamu bisa dengan jitu menggerus—bahkan seperti memilih—lemak di sekitar perut atau paha hingga membuat tubuh menjadi langsing? Berbahayakah mengurangi kolesterol dengan jamu-jamuan tanpa pengawasan dokter? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu membutuhkan pengenalan atas lemak.
Secara garis besar, lemak dalam tubuh bisa dibedakan menjadi lemak yang tertimbun di bawah kulit (yang membuat tubuh gemuk) dan lemak yang mengalir dalam darah. Lemak berukuran sangat kecil yang mengalir dalam darah bisa direduksi dengan obat. Sebaliknya, "Lemak di bawah kulit tidak mungkin bisa diturunkan dengan obat. Kalau ada yang mengatakan lemak macam ini bisa diturunkan, saya jamin itu pasti bohong. Jadi, kalau ada yang bilang minum obat tertentu bisa menguruskan badan, atau membuat lemaknya cair, itu bohong besar," kata Hamed Omar, dokter ahli jantung dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Lemak mempunyai beberapa fraksi—ada yang berbahaya, ada yang tidak. Ada empat fraksi: low density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), trigliserida, dan kolesterol total yang merupakan gabungan ketiga fraksi lemak. Tak semua lemak itu perlu dimusuhi karena hanya LDL dan trigliserida yang boleh dibilang merupakan "kolesterol jahat". Bila kadar LDL meninggi, bakal terjadi penyempitan pembuluh darah. Sementara itu, HDL, "si kolesterol baik", mampu mencegah terjadinya timbunan lemak di selaput bagian dalam pembuluh darah. Maka, dokter selalu menyarankan agar HDL ditingkatkan dengan cara yang ternyata mudah: olahraga. Kegiatan fisik ini mampu meningkatkan kolesterol baik tapi tidak bisa menurunkan kolesterol jahat.
Untuk menurunkan LDL yang telanjur menumpuk, tak ada cara lain kecuali dengan obat. Karena itu, sebaiknya orang mencegah penumpukan LDL dengan mengurangi konsumsi asam lemak jenuh yang banyak terdapat antara lain dalam lemak hewan, minyak kelapa sawit, minyak goreng, mentega, keju, es krim, dan berbagai makanan cepat saji.
Bila LDL telanjur segunung dan mesti digerus, pengobatan seperti apa yang pas? Para dokter biasa mengobati pasien yang kelebihan kolesterol dengan obat-obatan golongan statin seperti atovarstatin, pravastatin, simvastatin, lovastatin, dan cerivastatin. "Obat-obatan tersebut terbukti aman," kata Prof. Dr. T. Santoso, guru besar bidang internis dan kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meski seharusnya pengurangan kolesterol harus di bawah pengawasan dokter, ternyata banyak orang memilih pengobatan sendiri. Di pasar memang banyak beredar jamu peluntur lemak yang gencar diiklankan. Sebut, misalnya, Prolipid. Jamu yang diklaim bisa menurunkan kolesterol itu harga per kapsulnya cuma Rp 400 (bandingkan dengan obat generik simvastatin, yang harga per tabletnya Rp 3.600, atau Valemia—obat sejenis keluaran PT Sanbe—yang berharga Rp 6.800 per tablet). Dengan omzet Rp 6 miliar per tahun, Prolipid diperkirakan menguasai 50 persen pangsa pasar jamu sejenis di Indonesia.
Jamu produksi PT Indofarma itu terdiri dari tiga bahan utama, yaitu Guazumae folium (jati belanda) sebanyak 20 persen, Murrayae folium (kemuning) 10 persen, dan Sonchi folium (tempuyung) 10 persen. Dalam kemasannya tertulis: "Konsumsi Prolipid 2 x 2 kapsul sehari mampu menurunkan lemak dan kolesterol." Digagas sejak 1996, Prolipid meluncur di pasar pada 1997, setelah produknya diujicobakan pada karyawan Indofarma sendiri. Menurut Direktur Pemasaran Indofarma, Mohammad Jasin, Prolipid telah melaju ke pasar internasional, antara lain ke Polandia (meraup Rp 2,5 miliar) dan Rusia (menghasilkan Rp 500 juta). "Kami baru saja berpameran di Las Vegas, Amerika Serikat. Di sana responsnya juga bagus. Mereka bahkan sudah meminta agar Prolipid dicoba dipasarkan di sana," kata Jasin.
Apakah ini berarti jamu tradisional seefektif obat modern dalam menurunkan kolesterol? Tak banyak bukti ilmiah yang mendukungnya. Sejauh ini pihak Prolipid baru melakukan pengujian ilmiah di Universitas Airlangga, Surabaya, yang tampaknya belum cukup meyakinkan kalangan medis. Selain itu, penelitian hanya berupa "uji klinis" di kalangan karyawan Indofarma sendiri.
Minimnya penjelasan ilmiah seperti inilah yang membuat banyak dokter masih enggan menyarankan masyarakat untuk menurunkan kolesterol dengan obat-obatan tradisional. "Hampir semua obat tradisional belum pernah menjalani uji klinis yang baik," ujar Santosa. Suara dokter umumnya cenderung menyarankan konsumsi obat-obat yang sudah jelas teruji secara ilmiah ketimbang obat yang menurut iklannya bermanfaat tapi tak disertai bukti uji klinis. Maklum, para dokter kebanyakan berpatokan pada evidence-based medicine—obat-obatan yang sudah melewati eksperimen, penelitian laboratorium, binatang, dan klinis—yang memang menjadi patokan para klinisi di seluruh dunia.
Menurut Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan, para dokter dan farmakolog Indonesia cenderung terbiasa menerima pola Barat. "Jadi, setiap temuan obat tradisional dikatakan bukan obat.
Kini, pilihan memang berpulang pada pasien. Memilih pengobatan tradisional atau modern, yang penting pilihan itu—dengan segala risikonya—diambil setelah mendapatkan informasi yang lengkap dan jujur.
Semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Salam,
Ca' Moel
Senin, 18 Juli 2011
Bahaya Tersembunyi Minuman Kemasan
Pada tahun 1980-an, ketika air minum dalam kemasan diperkenalkan, banyak orang, termasuk para praktisi, menertawakannya. ”Air mudah didapat di mana–mana, hanya orang bodoh yang menjualnya,” begitu komentar sebagian besar orang.
Siapa sangka air minum dalam kemasan kini menjadi salah satu barang ekonomi yang mempunyai nilai jual tinggi. Air tersebut dijual dalam berbagai kemasan dan ukuran, seperti galon, botol, dan cup.
Saat ini minuman yang paling banyak diperjualbelikan adalah dalam kemasan cup, sehingga disebut cup drink. Pada akhir tahum 1990-an, cup drink bukan hanya berisi air putih biasa, tetapi sudah menjurus ke minuman berflavor, yakni jus buah, kopi, kopi susu, teh manis, dan lain-lain.
Perkembangan industri minuman dalam kemasan cup memang sangat menjanjikan. Selain inovasi teknologi yang murah, minuman ini pada umumnya membidik pasar kelas bawah, sehingga harganya relatif murah.
Sayangnya, belum ada standardisasi mengenai cup drink. Akibatnya, minuman tersebut diproduksi sangat beragam. Karena itu, tingkat keamanan dan nilai fungsionalnya perlu dicermati lebih dalam.
Selama ini, satu-satunya standar mengenai cup drink adalah standar air minum dalam kemasan yang mengacu pada SNI 01-3553–1996. Sementara produk-produk cup drink lainnya belum mempunyai standar yang pasti. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli cup drink adalah kondisi kemasan, pelabelan, nilai gizi, dan komponen ingridiennya.
Indikator Aman dan Sehat
Salah satu indikator untuk melihat keamanan cup drink adalah kondisi kemasan dan cara penyimpanannya. Saat ini terdapat banyak sekali variasi kemasan cup drink.
Sebagian besar menggunakan bahan dasar plastik, tetapi ada pula yang berbahan dasar gelas. Dalam pemilihan cup drink, hendaknya pilih yang tidak mengalami kerusakan fisik, seperti bocor (sekecil apa pun) dan penyok.
Kemasan yang mengalami kerusakan fisik memungkinkan terjadinya kontaminasi mikroba patogen yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kondisi penyimpanan cup drink juga harus mendapat perhatian. Sebagian cup drink kini dikemas dengan plastik gelap dengan tujuan untuk memblokir cahaya dan panas matahari dari luar, agar tidak merusak komponen kimia yang ada di dalam minuman.
Sebaiknya jangan membeli cup drink yang disimpan di bawah terik matahari karena dapat merusak komponen kimia yang terdapat di dalamnya, apalagi jika kemasannya terbuat dari plastik. Kemasan plastik yang umumnya digunakan berupa polyetilen (PE), polypropilen (PP), dan polyvinylchloride (PVC). Kemasan tersebut merupakan polimer yang tersusun dari monomer-monomer yang umumnya tidak tahan terhadap suhu tinggi.
Penggunaan plastik sebagai pengemas makanan, terutama makanan yang masih panas, sangat berbahaya karena komponen polimer dari plastik akan mudah terurai menjadi monomer yang dapat bermigrasi ke dalam makanan dan menimbulkan dioksin bagi yang mengonsumsinya. Dioksin merupakan suatu zat beracun yang dapat menyebabkan kanker dan mengurangi sistem kekebalan tubuh.
Iming-Iming Zat Gizi
Saat ini beberapa jenis cup drink difortifikasi dengan berbagai mineral dan vitamin, dengan tujuan untuk memperbaiki komposisi gizi dan sekaligus menjadi daya tarik bagi konsumen. Iming-iming fortifikasi zat gizi cukup ampuh untuk menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan. Bacalah label secara seksama sebelum memutuskan untuk membeli jenis cup drink tertentu, agar tidak terkecoh.
Zat gizi yang paling banyak ditambahkan ke dalam minuman adalah vitamin C. Pada suhu kamar, kerusakan vitamin C dalam minuman kemasan dapat mencapai 70 persen setelah 10 minggu penyimpanan, sedangkan penyimpanan dalam lemari pendingin hanya menyebabkan kerusakan sebesar 10 persen. Karena itu, jangan membeli cup drink di sembarang tempat. Belilah dari kios atau toko yang memiliki fasilitas pendingin yang memadai.
Pelabelan merupakan indikator lain yang tidak boleh luput dari perhatian. Selama ini pelabelan kurang mendapat perhatian produsen makanan ataupun minuman dalam kemasan, termasuk cup drink. Padahal, label merupakan salah satu unsur penting dalam memberikan rasa aman bagi konsumen.
Orang-orang yang menderita hipertensi sebaiknya memilih produk yang rendah natrium (sodium). Penderita diabetes melitus hendaknya memilih produk yang rendah gula, khususnya gula pasir, glukosa, fruktosa, dan madu.
Beberapa produk bahkan memberi peringatan bagi orang yang alergi terhadap bahan kimia tertentu. Tulisan ”fenilketonurik: mengandung fenilalanin” merupakan peringatan kepada penderita fenilketonuria, agar tidak mengonsumsi produk tersebut karena mengandung fenilalanin yang berasal dari pemanis aspartam.
Walaupun kasus fenilketonuria (ketidakmampuan tubuh dalam metabolisme fenilalanin) merupakan kasus yang sangat langka di dunia, peraturan mengharuskan pencantuman peringatan tersebut pada setiap produk yang menggunakan aspartam sebagai bahan pemanis. Belum ada data tentang kasus fenilketonuria di Indonesia.
Selain itu, pada label hendaknya juga diperhatikan masalah tanggal kedaluwarsa. Produk yang baik adalah produk yang memiliki waktu kedaluwarsa yang cukup panjang (sebaiknya lebih dari enam bulan).
Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah nama dan alamat perusahaan yang memproduksi produk, dengan tujuan untuk memudahkan klaim jika terjadi sesuatu pada produk tersebut.
Legalitas Produk
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah legalitas suatu produk, yaitu dapat dilihat dari nomor pendaftaran pada Departemen Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nomor tersebut berupa nomor MD (untuk makanan dalam negeri) atau ML (untuk makanan luar negeri/impor). Beberapa produk hasil industri kecil biasanya hanya mencantumkan nomor SP (sertifikat penyuluhan) atau IRT (industri rumah tangga).
Selama ini banyak konsumen yang tidak menyadari keberadaan beberapa produk yang belum terdaftar dan tidak memiliki identitas perusahaan yang jelas. Produk semacam itu jangan dibeli karena bisa merugikan kesehatan, terutama akibat belum diujinya keamanan produk tersebut oleh pihak yang berwenang.
Label gizi merupakan faktor lain yang perlu diperhatikan dan sebaiknya dicantumkan oleh produsen. Dari label gizi, konsumen dapat mengetahui berapa jumlah zat gizi yang telah diasup ketika mengonsumsi suatu produk.
Di Indonesia, label gizi jarang mendapat perhatian secara khusus. Meskipun sudah memiliki aturan yang jelas, masih banyak produk yang belum mencantumkan komposisi nilai gizinya. Padahal, dari label gizi inilah suatu produk dapat dinilai kualitasnya.
Siapa sangka air minum dalam kemasan kini menjadi salah satu barang ekonomi yang mempunyai nilai jual tinggi. Air tersebut dijual dalam berbagai kemasan dan ukuran, seperti galon, botol, dan cup.
Saat ini minuman yang paling banyak diperjualbelikan adalah dalam kemasan cup, sehingga disebut cup drink. Pada akhir tahum 1990-an, cup drink bukan hanya berisi air putih biasa, tetapi sudah menjurus ke minuman berflavor, yakni jus buah, kopi, kopi susu, teh manis, dan lain-lain.
Perkembangan industri minuman dalam kemasan cup memang sangat menjanjikan. Selain inovasi teknologi yang murah, minuman ini pada umumnya membidik pasar kelas bawah, sehingga harganya relatif murah.
Sayangnya, belum ada standardisasi mengenai cup drink. Akibatnya, minuman tersebut diproduksi sangat beragam. Karena itu, tingkat keamanan dan nilai fungsionalnya perlu dicermati lebih dalam.
Selama ini, satu-satunya standar mengenai cup drink adalah standar air minum dalam kemasan yang mengacu pada SNI 01-3553–1996. Sementara produk-produk cup drink lainnya belum mempunyai standar yang pasti. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli cup drink adalah kondisi kemasan, pelabelan, nilai gizi, dan komponen ingridiennya.
Indikator Aman dan Sehat
Salah satu indikator untuk melihat keamanan cup drink adalah kondisi kemasan dan cara penyimpanannya. Saat ini terdapat banyak sekali variasi kemasan cup drink.
Sebagian besar menggunakan bahan dasar plastik, tetapi ada pula yang berbahan dasar gelas. Dalam pemilihan cup drink, hendaknya pilih yang tidak mengalami kerusakan fisik, seperti bocor (sekecil apa pun) dan penyok.
Kemasan yang mengalami kerusakan fisik memungkinkan terjadinya kontaminasi mikroba patogen yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kondisi penyimpanan cup drink juga harus mendapat perhatian. Sebagian cup drink kini dikemas dengan plastik gelap dengan tujuan untuk memblokir cahaya dan panas matahari dari luar, agar tidak merusak komponen kimia yang ada di dalam minuman.
Sebaiknya jangan membeli cup drink yang disimpan di bawah terik matahari karena dapat merusak komponen kimia yang terdapat di dalamnya, apalagi jika kemasannya terbuat dari plastik. Kemasan plastik yang umumnya digunakan berupa polyetilen (PE), polypropilen (PP), dan polyvinylchloride (PVC). Kemasan tersebut merupakan polimer yang tersusun dari monomer-monomer yang umumnya tidak tahan terhadap suhu tinggi.
Penggunaan plastik sebagai pengemas makanan, terutama makanan yang masih panas, sangat berbahaya karena komponen polimer dari plastik akan mudah terurai menjadi monomer yang dapat bermigrasi ke dalam makanan dan menimbulkan dioksin bagi yang mengonsumsinya. Dioksin merupakan suatu zat beracun yang dapat menyebabkan kanker dan mengurangi sistem kekebalan tubuh.
Iming-Iming Zat Gizi
Saat ini beberapa jenis cup drink difortifikasi dengan berbagai mineral dan vitamin, dengan tujuan untuk memperbaiki komposisi gizi dan sekaligus menjadi daya tarik bagi konsumen. Iming-iming fortifikasi zat gizi cukup ampuh untuk menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan. Bacalah label secara seksama sebelum memutuskan untuk membeli jenis cup drink tertentu, agar tidak terkecoh.
Zat gizi yang paling banyak ditambahkan ke dalam minuman adalah vitamin C. Pada suhu kamar, kerusakan vitamin C dalam minuman kemasan dapat mencapai 70 persen setelah 10 minggu penyimpanan, sedangkan penyimpanan dalam lemari pendingin hanya menyebabkan kerusakan sebesar 10 persen. Karena itu, jangan membeli cup drink di sembarang tempat. Belilah dari kios atau toko yang memiliki fasilitas pendingin yang memadai.
Pelabelan merupakan indikator lain yang tidak boleh luput dari perhatian. Selama ini pelabelan kurang mendapat perhatian produsen makanan ataupun minuman dalam kemasan, termasuk cup drink. Padahal, label merupakan salah satu unsur penting dalam memberikan rasa aman bagi konsumen.
Orang-orang yang menderita hipertensi sebaiknya memilih produk yang rendah natrium (sodium). Penderita diabetes melitus hendaknya memilih produk yang rendah gula, khususnya gula pasir, glukosa, fruktosa, dan madu.
Beberapa produk bahkan memberi peringatan bagi orang yang alergi terhadap bahan kimia tertentu. Tulisan ”fenilketonurik: mengandung fenilalanin” merupakan peringatan kepada penderita fenilketonuria, agar tidak mengonsumsi produk tersebut karena mengandung fenilalanin yang berasal dari pemanis aspartam.
Walaupun kasus fenilketonuria (ketidakmampuan tubuh dalam metabolisme fenilalanin) merupakan kasus yang sangat langka di dunia, peraturan mengharuskan pencantuman peringatan tersebut pada setiap produk yang menggunakan aspartam sebagai bahan pemanis. Belum ada data tentang kasus fenilketonuria di Indonesia.
Selain itu, pada label hendaknya juga diperhatikan masalah tanggal kedaluwarsa. Produk yang baik adalah produk yang memiliki waktu kedaluwarsa yang cukup panjang (sebaiknya lebih dari enam bulan).
Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah nama dan alamat perusahaan yang memproduksi produk, dengan tujuan untuk memudahkan klaim jika terjadi sesuatu pada produk tersebut.
Legalitas Produk
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah legalitas suatu produk, yaitu dapat dilihat dari nomor pendaftaran pada Departemen Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nomor tersebut berupa nomor MD (untuk makanan dalam negeri) atau ML (untuk makanan luar negeri/impor). Beberapa produk hasil industri kecil biasanya hanya mencantumkan nomor SP (sertifikat penyuluhan) atau IRT (industri rumah tangga).
Selama ini banyak konsumen yang tidak menyadari keberadaan beberapa produk yang belum terdaftar dan tidak memiliki identitas perusahaan yang jelas. Produk semacam itu jangan dibeli karena bisa merugikan kesehatan, terutama akibat belum diujinya keamanan produk tersebut oleh pihak yang berwenang.
Label gizi merupakan faktor lain yang perlu diperhatikan dan sebaiknya dicantumkan oleh produsen. Dari label gizi, konsumen dapat mengetahui berapa jumlah zat gizi yang telah diasup ketika mengonsumsi suatu produk.
Di Indonesia, label gizi jarang mendapat perhatian secara khusus. Meskipun sudah memiliki aturan yang jelas, masih banyak produk yang belum mencantumkan komposisi nilai gizinya. Padahal, dari label gizi inilah suatu produk dapat dinilai kualitasnya.
Bekatul BERAS MERAH
Bekatul mengandung protein, mineral, lemak [asam lemak esensial], Phytosterosis, Polyphenois, Phospholipids, Beta-sitosterol, Co-enzyme Q10, Omega 3 Fatty Acids, Omega 6 Fatty Acids & Oteic Acid, Dietery Fibres [serat pencernaan], Vitamin Complex [Tocopherols, Tocotrienols, Gamma-Oryzanol], Vitamin B Complex [B1, B2, B3, B5, B6 dan B15/Vital antioksidan] serta nutrisi penting lain yang memiliki khasiat luar biasa sebagai penangkal penyakit-penyakit degeneratif berdasarkan pengalaman dr.Liem dalam mengobati pasiennya selama 30 tahun, seperti :
- Kencing manis
- Darah tinggi
- Kolesterol tinggi
- Pengapuran pembuluh darah
- Serangan jantung karena penyumbatan pembuluh darah
- Gangguan aliran pembuluh darah jantung
- Asma
- Meperbaki fungis hati
- Encok
- Gairah sex
- Gejala sering sakit kepala
- Sering berdebar jantung
- Rasa pegal otot
- Gangguan pencernaan
- Sembelit, susah buang air besar
- Peningkatan daya tahan fisik
- Penuaan dini
- Kegemukan
- Mengatasi haid tidak teratur
- Meningkatkan kesuburan
- Kista Ovarium
Salah satu bahan yang melimpah di negeri kita tetapi jarang ada yang tahu manfaatnya yang begitu besar untuk membantu penyembuhan beberapa penyakit berbahaya yang banyak ditemui di negeri kita. Berikut ini ringkasan hasil penelitian dan tulisan dari Letkol TNI (Purn) dr. Yusuf Nursalim (dr. Liem) dalam buku berjudul: BEKATUL Makanan yang Menyehatkan.
Salah satu kandungan tinggi pada bekatul adalah vitamin B15. Vitamin ini sanggup mengoptimalkan kerja aneka organ tubuh. Gangguan jantung, kelenjar gondok, darah tinggi, dan sejumlah penyakit lain pun bisa diatasi.
Vitamin B15 memang belum dikenal masyarakat. Padahal, senyawa yang juga disebut pangamic acid ini memiliki banyak khasiat. Struktur kimia vitamin B15 adalah Glucono-dimethy-lamino-acetic-acid, ditemukan oleh Dr. Ernest T. Krebs, ahli biokimia dari San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 1952.
Salah satu kandungan tinggi pada bekatul adalah vitamin B15. Vitamin ini sanggup mengoptimalkan kerja aneka organ tubuh. Gangguan jantung, kelenjar gondok, darah tinggi, dan sejumlah penyakit lain pun bisa diatasi.
Vitamin B15 memang belum dikenal masyarakat. Padahal, senyawa yang juga disebut pangamic acid ini memiliki banyak khasiat. Struktur kimia vitamin B15 adalah Glucono-dimethy-lamino-acetic-acid, ditemukan oleh Dr. Ernest T. Krebs, ahli biokimia dari San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 1952.
Meski awalnya temuan tersebut ditentang Food & Drug Administration (FDA) AS, Krebs dan teman-teman berhasil mengembangkannya secara diam-diam di Uni Soviet, selama lebih dari 10 tahun. Di Uni Soviet, saat itu vitamin B15 dikonsumsi secara luas dan untuk mengobati penyakit yang belum diketahui penyebabnya.
Penyakit yang diobati dengan vitamin B15, diantaranya diabetes melitus (DM), hipertensi, kolesterol tinggi, serta arteriosklerosis (perkapuran pembuluh darah). Vitamin B15 juga dimanfaatkan untuk mengatasi serangan jantung karena sumbatan pembuluh darah jantung, gangguan aliran pembuluh darah jantung, asma (bengek) dan penyakit hati (sirosis).
Penyakit Kota
Tertarik oleh data pharmaco physiologic effect vitamin B15, saya mencoba bekatul sebagai makanan tambahan dalam mengobati penyakit tertentu. Pertimbangan utamanya, vitamin B15 terdapat dalam jumlah melimpah di Indonesia dan murah harganya.
Bekatul sejak dulu telah dikenal luas, terutama oleh masyarakat di pedesaan yang terbiasa mengonsumsi beras tumbuk, yang masih mengandung 50 persen bekatul. Bahkan, bekatul sering dikonsumsi sebagai makanan tambahan yang sehat karena mengandung banyak vitamin.
Dulu, masyarakat di pedesaan yang telah berumur 60-70 tahun pun masih kuat mencangkul. Jarang ada penyakit DM, kolesterol, darah tinggi, atau jantung, yang biasa disebut penyakit orang kota. Sekarang?
Penyakit yang diobati dengan vitamin B15, diantaranya diabetes melitus (DM), hipertensi, kolesterol tinggi, serta arteriosklerosis (perkapuran pembuluh darah). Vitamin B15 juga dimanfaatkan untuk mengatasi serangan jantung karena sumbatan pembuluh darah jantung, gangguan aliran pembuluh darah jantung, asma (bengek) dan penyakit hati (sirosis).
Penyakit Kota
Tertarik oleh data pharmaco physiologic effect vitamin B15, saya mencoba bekatul sebagai makanan tambahan dalam mengobati penyakit tertentu. Pertimbangan utamanya, vitamin B15 terdapat dalam jumlah melimpah di Indonesia dan murah harganya.
Bekatul sejak dulu telah dikenal luas, terutama oleh masyarakat di pedesaan yang terbiasa mengonsumsi beras tumbuk, yang masih mengandung 50 persen bekatul. Bahkan, bekatul sering dikonsumsi sebagai makanan tambahan yang sehat karena mengandung banyak vitamin.
Dulu, masyarakat di pedesaan yang telah berumur 60-70 tahun pun masih kuat mencangkul. Jarang ada penyakit DM, kolesterol, darah tinggi, atau jantung, yang biasa disebut penyakit orang kota. Sekarang?
Penyakit tersebut telah merambah hingga ke desa-desa. Menurut keyakinan saya, penyebab utamanya modernisasi telah masuk ke pelosok desa, sehingga penggilingan padi mini tersebar di mana-mana.
Tentang penyebaran penggilingan padi mini ini, saya pernah melontarkan kritik kepada pemerintah dalam tulisan di sebuah harian di Bandung pada tahun 1977. Apakah modernisasi tidak akan membawa akibat buruk kepada rakyat desa di kemudian hari? Saya yakin hal itu telah terjadi.
Tentang penyebaran penggilingan padi mini ini, saya pernah melontarkan kritik kepada pemerintah dalam tulisan di sebuah harian di Bandung pada tahun 1977. Apakah modernisasi tidak akan membawa akibat buruk kepada rakyat desa di kemudian hari? Saya yakin hal itu telah terjadi.
Mencoba Sendiri
Semula saya mencoba bekatul sebagai makanan tambahan selama satu bulan dengan dosis 30 gram atau 2 sendok makan penuh, setiap hari. Manfaat yang saya rasakan, buang air besar (BAB) lancar, badan lebih fit, dan tidak lekas lelah saat berolahraga.
Di tahun 1976 itu saya masih aktif sebagai dokter militer di Sekolah Calon Perwira (Secapa). Dengan seizin komandan Secapa, saya diperbolehkan memberikan makanan tambahan itu kepada para siswa. Hasilnya, mereka lebih sehat saat proses seleksi.
Jumlah siswa Secapa waktu itu kurang lebih 200 orang. Namun, saya hanya memberi makanan tambahan, dengan dosis 30 gram, kepada 1 pleton siswa (30 orang) untuk uji coba. Kesehatan ke-30 siswa itu diawasi oleh dr. Kuswaji dibantu oleh stafnya, dr. Alfred Tan dan dr. Darsono, dari bagian biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.
Sebelum diberi makanan tambahan, tekanan darah sistolis mereka antara 100-170 mmHg, dengan angka rata-rata 100-130 (sistolis). Setelah tiga bulan, lebih dari 50 persen siswa menunjukkan penurunan sampai 20 (sistolis dan diastolis) angka.
Lebih dari 25 persen di antaranya turun sampai 90/60, tetapi tidak ada yang mengeluh pusing, malahan mereka merasa lebih fit. Melihat hasil tersebut, pemberian makanan tambahan dilanjutkan sampai 8 bulan. Hasilnya, tekanan darah sistolis tertinggi adalah 125.
Semula saya mencoba bekatul sebagai makanan tambahan selama satu bulan dengan dosis 30 gram atau 2 sendok makan penuh, setiap hari. Manfaat yang saya rasakan, buang air besar (BAB) lancar, badan lebih fit, dan tidak lekas lelah saat berolahraga.
Di tahun 1976 itu saya masih aktif sebagai dokter militer di Sekolah Calon Perwira (Secapa). Dengan seizin komandan Secapa, saya diperbolehkan memberikan makanan tambahan itu kepada para siswa. Hasilnya, mereka lebih sehat saat proses seleksi.
Jumlah siswa Secapa waktu itu kurang lebih 200 orang. Namun, saya hanya memberi makanan tambahan, dengan dosis 30 gram, kepada 1 pleton siswa (30 orang) untuk uji coba. Kesehatan ke-30 siswa itu diawasi oleh dr. Kuswaji dibantu oleh stafnya, dr. Alfred Tan dan dr. Darsono, dari bagian biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.
Sebelum diberi makanan tambahan, tekanan darah sistolis mereka antara 100-170 mmHg, dengan angka rata-rata 100-130 (sistolis). Setelah tiga bulan, lebih dari 50 persen siswa menunjukkan penurunan sampai 20 (sistolis dan diastolis) angka.
Lebih dari 25 persen di antaranya turun sampai 90/60, tetapi tidak ada yang mengeluh pusing, malahan mereka merasa lebih fit. Melihat hasil tersebut, pemberian makanan tambahan dilanjutkan sampai 8 bulan. Hasilnya, tekanan darah sistolis tertinggi adalah 125.
Dr. Muchsin Doewes dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Solo, pada 1979, meminta bekatul dari saya untuk diujicobakan pada tikus. Judul percobannya The Preventive Action of Rice Bran in Experimental Fatty Infiltration of the Liver, dengan hasil yang sangat mendukung konsumsi bekatul untuk kesehatan hati.
Dr. Muchsin menyatakan bahwa bekatul lebih baik dari vitamin B15 sintetis. Hal ini mungkin disebabkan masih ada zat-zat lain dalam bekatul yang menghasilkan efek lebih baik dalam percobaannya.
Bekatul mengandung karbohidrat, protein, mineral, lemak, vitamin B kompleks (B1, B2, B3, B5, B6 dan B15) dan dietary fiber (serat pencernaan). Konsentrasi vitamin B15 per 100 gram bahan: rice bran (beras) 200 mg, jagung 150 mg, havermut 100 mg, wheat bran (dedak gandum) 30 mg.
Dari berbagai penjelasan ilmiah tentang vitamin B15, yang paling penting cara bekerjanya, yaitu menyempurnakan metabolisme di dalam tubuh. DM, Basedov (gondok), kolesterol tinggi, merupakan penyakit akibat terganggunya proses metabolisme tubuh.
Pada DM yang tergantung insulin, pemberian bekatul tidak berpengaruh. Namun, ada 2 kasus dengan reaksi positif, yaitu insulin yang dipakai tiap hari berkurang, dari 40 jadi hanya 20 unit. Saya yakin, bekatul dapat merangsang sel-sel Langerhans di dalam panrkeas untuk membentuk insulin.
Dr. Muchsin menyatakan bahwa bekatul lebih baik dari vitamin B15 sintetis. Hal ini mungkin disebabkan masih ada zat-zat lain dalam bekatul yang menghasilkan efek lebih baik dalam percobaannya.
Bekatul mengandung karbohidrat, protein, mineral, lemak, vitamin B kompleks (B1, B2, B3, B5, B6 dan B15) dan dietary fiber (serat pencernaan). Konsentrasi vitamin B15 per 100 gram bahan: rice bran (beras) 200 mg, jagung 150 mg, havermut 100 mg, wheat bran (dedak gandum) 30 mg.
Dari berbagai penjelasan ilmiah tentang vitamin B15, yang paling penting cara bekerjanya, yaitu menyempurnakan metabolisme di dalam tubuh. DM, Basedov (gondok), kolesterol tinggi, merupakan penyakit akibat terganggunya proses metabolisme tubuh.
Pada DM yang tergantung insulin, pemberian bekatul tidak berpengaruh. Namun, ada 2 kasus dengan reaksi positif, yaitu insulin yang dipakai tiap hari berkurang, dari 40 jadi hanya 20 unit. Saya yakin, bekatul dapat merangsang sel-sel Langerhans di dalam panrkeas untuk membentuk insulin.
Di mana kita bisa mendapatkan vitamin B15? Dr. Krebs, telah mengisolasinya dalam rice bran (The Merck Index Seventh Edition hal 1099). Di Rusia, Jerman, Perancis, Jepang, Spanyol, dan Yugoslavia, ekstrak vitamin B15 itu telah beredar. Umumnya dalam bentuk garam sebagai kalsium (obat paten produksi pabrik farmasi) dengan harga mahal.
Vitamin B15 itu memang tidak beredar di Indonesia, tetapi mudah dijumpai di seluruh pelosok Indonesia dalam jumlah berlimpah, yaitu dalam rice bran atau dedak halus alias bekatul.
Vitamin B15 itu memang tidak beredar di Indonesia, tetapi mudah dijumpai di seluruh pelosok Indonesia dalam jumlah berlimpah, yaitu dalam rice bran atau dedak halus alias bekatul.
Pengalaman Mengobati
- Bekatul dan Penyakit Asma (Bengek)
Dalam menangani penyakit asma, saya meresepkan obat-obatan yang umum diresepkan oleh rekan sejawat sambil menambahkan bekatul. Hasilnya sangat memuaskan. Mereka yang mengonsumsi bekatul secara teratur, penyakit asmanya tidak pernah kambuh atau bila kambuh hanya ringan saja. - Bekatul dan Para penderita penyakit jantung yang datang berobat, selalu dr. Liem anjurkan untuk menambahkan makanan bekatul di samping makan obat-obatan khusus jantung. Penambahan makan bekatul disarankan setelah penderita berkonsultasi dengan kardiolog yang mengobatinya. Ada beberapa kardiolog yang kaget atas khasiat bekatul setelah melihat EKG seorang pasien menjadi normal setelah makan bekatul antara 6 - 8 bulan.
- Bekatul dan Penyakit Basedov/Hipertiroid (Gondok)
Seorangibu datang berobat lima tahun lalu karena penyakit gondok (basedov) yang dideritanya. Kelenjar tiroidnya sangat besar. saya konsultasikan dengan internis, yang memberikan pengobatan propil thio uracil (PTU) dan neomercasol. Nyatanya, sudah 2 bulan pengobatan, tumornya tetap saja besar.
Meski disarankan untuk operasi, pasien menolak karena takut. Untunglah ia mau mengasup bekatul selama beberapa bulan. Ternyata tumornya hilang total. Internis tersebut terperanjat saat melihat tumor si pasien hilang total.
Setelah kejadian yang membuat saya terheran-heran itu, saya mengobati 2-3 pasien penyakit basedov (T3-T4 tinggi) dengan bekatul dan PTU (obat murah), lambat laun tumor mereka makin kecil dan hilang. - Bekatul dan Diabetes Melitus
Seorang pasien pria datang dengan berat badan turun drastis dan kadar gula darah swaktu 400 mg%. Dia sudah impoten dan hanya punya satu anak. Saya meresepkan Glibenclamid 1 tablet sehari ditambah bekatul 3x1 sdm, disertai diet. Syukurlah kadar gulanya berangsur-angsur turun dan impotensinya sembuh, bahkan memperoleh satu anak lagi. - Bekatul dan Obesitas (Kegemukan). Bekatul berkalori rendah dan berserat tinggi, Untuk mengurangi obesitas, ikuti petunjuk berikut ini. Makan bekatul 3x1 sdm penuh per hari,. Setelah Anda bisa menyesuaikan diri, dosis boleh ditingkatkan. Pagi 3 sdm penuh, Anda sudah akan merasa kenyang. Siang makan nasi sedikit saja, kalau masih lapar, konsumsi buah-buahan dan sayur-mayur, boleh juga ditambahkan 2 sdm bekatul. Malam hari jangan makan nasi, makan saja buah-buahan atau ditambahkan 2 sdm bekatul.
- Bekatul dan Kista Ovarium
Sambil menunggu operasi dan mendapat obat dari dokter kandungan, boleh mencoba bekatul 3x1 sdm. Ada beberapa penderita kista (masih kecil, sebesar bola pingpong), setelah makan bekatul hilang total dalam beberapa minggu, termasuk anak saya yang kemudian bisa hamil. - Bekatul dan Peningkatkan gairah seksual pada pria setelah mengkonsumsi bekatul selama 1 - 2 bulan. Menurut perkiraan dr. Liem, bekatul dapat meningkatkan kesuburan pada wanita. Liem telah mencobanya pada beberapa pasien yang sudah 3 - 4 tahun menikah yang belum dikaruniai anak. Setelah suami istri makan bekatul secara teratur 3 kali 1 sendok makan, ternyata si istri hamil.
Efek Samping
1. Kadang-kadang terjadi diare pada permulaan konsumsi bekatul, tetapi selanjutnya akan biasa lagi. Kalau masih diare, kurangi dosisnya, misalnya setengah sdm tiap sore untuk penyesuaian.
2. Kadang-kadang susah buang air besar (sangat jarang terjadi), disarankan makan pepaya atau campur bekatul dengan agar-agar.
3. Kadang-kadang muncul rasa mual pada penderita maag. Kepada mereka disarankan mengasup bekatul yang lebih encer dan jangan sekaligus, misalnya 1 sdm dicampur dengan 1 gelas air minum atau agar-agar. Dengan cara ini sakit maag akan berkurang, bahkan berangsur-angsur sembuh.
Sumber: BEKATUL Makanan yang Menyehatkan, Letkol TNI (Purn) dr. Yusuf Nursalim (dr. Liem) & dra. Zalni Yetti Razali, MPd. Penerbit: AgroMedia Pustaka, Jakarta.
DAPAT DIPEROLEH DI :
SURABAYA UTARA: Pasar Atom ( Hartani Supermarket, Toko KNB, Toko Wijaya, Toko Trendy) , Pasar Pabean ( TOKO SUSANA, TOKO SAN SAN, TOKO SURYA) , Carrefour ITC, Toko obat Jalan Jagalan ( Ban Seng Tong, Ban Tjie Tong, Bintang Sehat) , Toko obat Sehat Utama ( Jl Undaan) , Pasar Babaan Jln.Kebalen ( Toko Subur)
SURABAYA TIMUR : Bilka Supermarket, Bonnet Manyar, Ranch Market Galaxy, Hartani Ngagel,
Carrefour Kalimas ( Ngagel) , Prima Buah Kertajaya, Carrefour Panjang Jiwo
SURABAYA BARAT: Carrefour Golden City, Toko Obat Ban Tjie Tong ( HR Muhammad) , UFO ( Manukan Tama) , Vida Supermarket ( Mayjen Sungkono) , Papaya ( Darmo Permai) , Carrefour Dukuh Kupang
SURABAYA SELATAN : Carrefour Ahmad Yani, Papaya Margorejo, Carrefour Rungkut, UFO ( Jalan Tropodo)
SURABAYA PUSAT : UFO ( Embong Malang) , Careffour Bubutan
JEMBER : CARREFOUR HAYAM WURUK
MALANG : CARREFOUR BLIMBING Jl. A Yani,
SURABAYA UTARA: Pasar Atom ( Hartani Supermarket, Toko KNB, Toko Wijaya, Toko Trendy) , Pasar Pabean ( TOKO SUSANA, TOKO SAN SAN, TOKO SURYA) , Carrefour ITC, Toko obat Jalan Jagalan ( Ban Seng Tong, Ban Tjie Tong, Bintang Sehat) , Toko obat Sehat Utama ( Jl Undaan) , Pasar Babaan Jln.Kebalen ( Toko Subur)
SURABAYA TIMUR : Bilka Supermarket, Bonnet Manyar, Ranch Market Galaxy, Hartani Ngagel,
Carrefour Kalimas ( Ngagel) , Prima Buah Kertajaya, Carrefour Panjang Jiwo
SURABAYA BARAT: Carrefour Golden City, Toko Obat Ban Tjie Tong ( HR Muhammad) , UFO ( Manukan Tama) , Vida Supermarket ( Mayjen Sungkono) , Papaya ( Darmo Permai) , Carrefour Dukuh Kupang
SURABAYA SELATAN : Carrefour Ahmad Yani, Papaya Margorejo, Carrefour Rungkut, UFO ( Jalan Tropodo)
SURABAYA PUSAT : UFO ( Embong Malang) , Careffour Bubutan
JEMBER : CARREFOUR HAYAM WURUK
MALANG : CARREFOUR BLIMBING Jl. A Yani,
SOLO : CARREFOUR PABELAN, CARREFOUR SOLO BARU
YOGYAKARTA : CARREFOUR MAGUWO
YOGYAKARTA : CARREFOUR MAGUWO
SIDOARJO : Toko Oleh-oleh khas Sidoarjo (Toko MITRA).
Langganan:
Postingan (Atom)
